"Anak lelaki tak boleh dihiraukan panjang. Hidupnya ialah untuk berjuang. Jika perahunya telah dikayuh ke tengah, ia tak boleh surut pulang. Meskipun bagaimana besar gelombang. Biarkan kemudi patah, biarlah layar robek, itu lebih mulia daripada membalik haluan pulang", begitulah nasehat Buya Hamka.

Sebuah nasehat yang menguatkan orang tua saat momen haru dimana orang tua harus berpisah dengan putranya untuk menuntut ilmu di pondok pesantren. Saat itu rumah benar-benar sepi ketika kami berdua meninggalkan rumah yang tak lain demi untuk menuntut ilmu. 


Kali ini saya akan menceritakan adik saya, namanya Hamka Ghozali. Alhamdulillah, saat ini ia sudah kelas 3 SMA (12) di salah satu pesantren di Kota Medan. Ada cerita yang cukup menarik sebelum ia masuk ke pesantren, ya dia sempat menolak. Ia bersikeras tidak mau masuk pesantren. Dia bilang, "Hamka masuk SMA negeri aja kayak abang". Ayah dan mamak kami pun berinisiatif untuk mengunjungi dan memperkenalkan beberapa sekolah-sekolah islam di Medan namun tetap saja dia menolak dan ayah pun marah besar.


Akhirnya saya mengajaknya ngobrol berdua. Saat itu saya bertanya kepadanya, "adek kenapa gak mau masuk pesantren? Kan sebelumnya SMP Hamka udah berbasis keislaman jd kalau masuk pesantren udah gak perlu beradaptasi lebih dong?" ia hanya diam. Saya lanjut menasehatinya, ada alasan tertentu kenapa ayah menyuruh Hamka masuk pesantren, salah satunya ayah mau hamka benar-benar memahami agama islam secara kaffah dan hamka lihat sendiri bagaimana kondisi para ulama kita sekarang. Untuk meneruskan perjuangan mereka, harus ada yang meneruskannya dan bisa jadi salah satunya adalah Hamka. Hamka coba aja dulu bagaimana rasanya di pesantren itu, nah kalau Hamka merasa gak nyaman, kita cari sekolah yang sesuai keinginan Hamka.


Saat itu saya tak berniat ia akan tergugah hatinya untuk mau masuk pesantren karena nasehat saya tapi alhamdulillah, akhirnya dia mau. "Oke Hamka mau masuk pesantren", katanya ke ayah dan mamak. Dan alhamdulillah dia nyaman di pesantren tersebut. Alhamdulillah saat ini hafalannya sudah berjalan 10 juz dan yang saya salutkan dari nya, ia mampu menguasai irama-irama populer seperti maqam kurdi, nahawand, bayyati, sika, hijaz dan masih banyak lainnya. Dan dia pula yang menjadi penyemangat saya untuk mempelajari irama-irama tersebut. 


Terkadang saya sempat ragu apakah nasehat-nasehat saya kepadanya didengarkan oleh nya, namun keraguan saya selalu dijawabnya melalui aksinya salah satunya adalah ia mau untuk masuk pesantren. Sebenarnya bukan selalu saya saja yang menasehatinya, ia pun juga pernah sesekali menasehati saya seperti ia menyarankan saya untuk memahami dan mempelajari berbagai macam irama-irama tersebut, agar saya tidak berpatokan kepada satu Qori' saja dalam membaca atau mengahafal Al-Quran.


Rosulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah termasuk golonganku orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang muda." (HR Imam Ahmad dan ath-Thabrani)

Dari hadis tersebut menunjukkan bahwa kakak/abang memiliki hak untuk dihormati sehingga kewajiban adik adalah menghormati kakak/abangnya. Sebaliknya, hak adik adalah disayangi sehingga kakak berkewajiban untuk menjaga dan menyayangi adiknya.

Akhirnya saya sadar bahwa saya juga memiliki peran yang besar dalam membimbingnya. Dan ternyata dengan memberikan nasehat kepadanya juga dapat mempengaruhi pola pikir serta proses pengambilan keputusan dalam hidupnya. 


رَبَّنَا هَبْ لَـنَا مِنْ اَزْوَا جِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّا جْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَا مًا


"Ya Allah ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."

Aamiin🤲


#30harisailbercerita

#sekolahazzakiyahislamicleadership

#sailrangers

#blackranger

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Insight Diskusi Bersama Guru Sekolah Az-Zakiyah Islamic Leadership Medan (Part 2)

BAPERAN